Selasa, 16 Juli 2013

ASKEP BAYI BARU LAHIR

KATA PENGANTAR
      Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT, atas limpahan rahmat dan barokah-Nya, Makalah Asuhan Keperawatan dengan gangguan system persyarafan  ini dapat terselesaikan dengan baik. Ucapan terima kasih penulis sampaikan kepada berbagai pihak yang ikut membantu baik langsung maupun tidak langsung.
      Makalah ini merupakan tugas mata kuliah diberikan oleh dosen mata kuliah keperawatan medical bedah (KMB) oleh Bpk. Ukkas Hi Akil  S.kep. NS untuk mencapai kompetensi yang diharapkan sesuai dengan kurikulum pendidikan keperawatan.
      Setelah mempelajari makalah ini, diharapkan mahasiswa keperawatan dan masyarakat umum dapat memahami asuhan keperawatan pada klien dengan post craniotomi dan mengaplikasikan pada tatanan klinik baik dirumah akit, pusat-pusat pelayanan kesehatan maupun dimasyarakat melalui upaya home health care, sehingga tercapai pelayanan kesehatan khususnya keperawatan yang professional dan berkualitas.
      Penulis menyadari makalah ini maih terdapat kekurangan baik materi maupun penyajian. Oleh karena itu, kritik dan saran sangat kami harapkan demi kesempurnaan makalah ini. Akhirnya, semoga dengan terbitnya ilmu yang dapat memberikan khazanah dan bermanfaat bagi semuanya. Amien.

Tolitoli, 16 April 2013







































DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR……………………………………...…………………………………1
DAFTAR ISI………………………………………………………………………………….2
TINJAUAN TEORI MEDIS
1.   PENGERTIAN…………………………………………………………..……………3
2.  ETIOLOGI……………………………………………………………………………3
3.  KOMPLIKASI…………………………………………………….…….……………3
4.  PENATALAKSANAAN……...……………………………………….……………..4
5.  TEST DIAGNOSTIK......……………………………………………………………..4
TINJAUAN TEORI MEDIS
1.   PENGKAJIAN………………………………………………….…………………….7
2.  DIAGNOSA KEPERAWATAN………………………………………….…..……..11
3.  INTERVENSI DAN RASIONAL………………………………...…………………11
4.  EVALUASI……………………………………………………………………….....18
DAFTAR PUSTAKA












TINJAUAN TEORI MEDIS
1.   Pengertian
 Kraniotomi adalah operasi pembukaan tulang tengkorak, Barbara Engram, alih bahasa Suharyati Samba, dkk (1998: 642).
 Craniotomy adalah setiap pembedahan pada tulang tengkorak. Ahmad Ramali (1996: 62)
   Craniotomy adalah Operasi untuk membuka tengkorak (tempurung kepala) dengan maksud untuk mengetahui dan memperbaiki kerusakan otak. Brown CV, Weng J.
Craniectomy adalah operasi pengangkatan sebagian tengkorak. Hamilton MG, Frizzell JB, Tranmer BI.
Craniotomi adalah prosedur untuk menghapus luka di otak melalui lubang di tengkorak (kranium). Chesnut RM, Gautille T, Blunt BA.
 Dari ketiga pendapat diatas dapat disimpulkan bahwa pengertian dari Craniotomi adalah Operasi membuka tengkorak (tempurung kepala) untuk mengetahui dan memperbaiki kerusakan yang diakibatkan oleh adanya luka yang ada di otak
2.  Etiologi
Etiologi dilakukannya Craniotomy karena
1.    Adanya benturan kepala yang diam terhadap benda yang sedang bergerak.
Misalnya pukulan-pukulan benda tumpul, kena lemparan benda tumpul.
2.  Kepala membentur benda atau objek yang secara relative tidak bergerak. Misalnya
membentur tanah atau mobil
3. Kombinasi keduanya.

3.  Komplikasi
Komplikasi yang mungkin timbul pada pasien post operasi craniotomi antara lain .
1.   Edema cerebral
2.  Perdarahan subdural, epidural, dan intracerebral
3.  Hypovolemik syok
4.   Hydrocephalus
5.  Ketidakseimbangan cairan dan elektrolit (SIADH atau Diabetes Insipidus)
6.   Gangguan perfusi jaringan sehubungan dengan tromboplebitis.Tromboplebitis    postoperasibiasanya timbul 7 - 14 hari setelah operasi. bahaya besar tromboplebitis timbul bila darah tersebut lepas dari dinding pembuluh darah vena dan ikut aliran darah sebagai emboli ke paru-paru, hati, dan otak. Pencegahan tromboplebitis yaitu latihan kaki post operasi, ambulatif dini.
7.  Infeksi.
Infeksi luka sering muncul pada 36 - 46 jam setelah operasi. Organisme yang paling sering menimbulkan infeksi adalah stapilokokus aurens, organisme; gram positif. Stapilokokus mengakibatkan pernanahan. Untuk menghindari infeksi luka yang  paling penting adalah perawatan luka dengan memperhatikan aseptik dan antiseptik.
8.  Kerusakan integritas kulit sehubungan dengan dehisensi luka atau eviserasi.
Dehisensi luka merupakan terbukanya tepi-tepi luka. Eviserasi luka adalah keluarnya organ-organ dalam melalui insisi. Faktor penyebab dehisensi atau eviserasi adalah infeksi luka, kesalahan menutup waktu pembedahan.

4.  Penatalaksanaan
1.   Penatalaksanaan perawatan pada pasien post operasi Craniotomi adalah
a. Mengurangi komplikasi akibat pembedahan.
b. Mempercepat penyembuhan.
c. Mengembalikan fungsi pasien semaksimal mungkin seperti sebelum operasi.
d. Mempertahankan konsep diri pasien.
e. Mempersiapkan pasien pulang.
2.  Penatalaksanaan medis
Penatalaksanaan medis pada pasien post craniotomy antara lain
a.   Dexamethason/kalmethason sebagai pengobatan anti edema serebral, dosis
sesuai dengan berat ringanya trauma
b. Terapi hiperventilasi (trauma kepala berat), untuk mengurnagi vasodilatasi.
c. Pengobatan anti edema dnegan larutan hipertonis yaitu manitol 20 % atau glukosa 40
    % atau gliserol 10 %.
d. Antibiotika yang mengandung barrier darah otak (penisillin) atau untuk infeksi
    anaerob diberikan metronidasol.
e. Makanan atau cairan, Pada trauma ringan bila muntah-muntah tidak dapat diberikan
    apa-apa, hanya cairan infus dextrosa 5 %, amnifusin, aminofel (18 jam pertama dari
    terjadinya kecelakaan), 2 - 3 hari kemudian diberikan makanan lunak.
f. Pada trauma berat. Karena hari-hari pertama didapat penderita mengalami  penurunan
    kesadaran dan cenderung terjadi retensi natrium dan elektrolit maka hari-hari pertama
   (2-3 hari) tidak terlalu banyak cairan. Dextosa 5 % 8 jam pertama, ringer dextrosa 8 jam
    kedua dan dextrosa 5 % 8 jam ketiga. Pada hari selanjutnya bila kesadaran rendah
    makanan diberikan melalui nasogastric tube (2500 - 3000 TKTP). Pemberian protein
    tergantung nilai ure nitrogennya.
g.   Pembedahan.
h.   Penatalaksanaan konservatif
Penatalaksanaan konservatif pada pasien post craniotomy antara lain
a. Bedrest total
b. Pemberian obat-obatan
c. Observasi tanda-tanda vital dan tingkat kesadaran.
i.    Perawatan Pasca Pembedahan
Perawatan Pasca Operasi pada pasien craniostomi antara lain
1. Tindakan keperawatan post operasi
a. Monitor kesadaran, tanda-tanda vital, CVP, intake dan output
b. Observasi dan catat sifat darai drain (warna, jumlah) drainage.
c. Dalam mengatur dan menggerakan posisi pasien harus hati-hati, jangan sampai
    drain tercabut.
d. Perawatan luka operasi secara steril.
2. Makanan
Pada pasien pasca pembedahan biasanya tidak diperkenankan menelan makanan sesudah pembedahan. makanan yang dianjurkan pada pasien post operasi adalah makanan tinggi protein dan vitamin C. Protein sangat diperlukan pada proses penyembuhan luka, sedangkan vitamin C yang mengandung antioksidan membantu meningkatkan daya tahan tubuh untuk pencegahan infeksi. Pembatasan diit yang dilakukan adalah NPO (nothing peroral). Biasanya makanan baru diberikan jika Perut tidak kembung, Peristaltik usus normal, Flatus positif, dan Bowel movement positif
3. Mobilisasi
Biasanya pasien diposisikan untuk berbaring ditempat tidur agar keadaanya stabil. Biasanya posisi awal adalah terlentang, tapi juga harus tetap dilakukan perubahan posisi agar tidak terjadi dekubitus. Pasien yang menjalani pembedahan abdomen dianjurkan untuk melakukan ambulasi dini.
4. Pemenuhan kebutuhan eliminasi
a.   Sistem Perkemihan.
Kontrol volunter fungsi perkemihan kembali setelah 6 – 8 jam post anesthesia
inhalasi, IV, spinal.
b.   Sistem Gastrointestinal.
Mual muntahà1) 40 % klien dengan GA selama 24 jam pertama dapat menyebabkan
stress dan iritasi luka GI dan dapat meningkatkan TIK pada bedah kepala dan leher
serta TIO meningkat.
1) Kaji fungsi gastro intestinal dengan auskultasi suara usus.
2) jumlah, warna, konsistensi isi lambung tiap 6 – 8 jam.
3) Insersi NG tube intra operatif mencegah komplikasi post operatif dengan
    decompresi dan drainase lambung.
a.   Meningkatkan istirahat.
b.    Memberi kesempatan penyembuhan pada GI trac bawah.
c.   Memonitor perdarahan.
d.    Mencegah obstruksi usus.
e.   Irigasi atau pemberian obat.
k. Pemeriksaan diagnostik
Terdapat beberapa pemeriksaan diagnostic pada kraneotomi antara lain :
a.    Arterigrafi atau Ventricolugram
Untuk mendeteksi kondisi patologi pada sistem ventrikel dan cisterna.
b.    CT – SCAN
Dasar dalam menentukan diagnosa.
c.    Radiogram
Memberikan informasi yang sangat berharga mengenai struktur, penebalan dan klasifikasi; posisi kelenjar pinelal yang mengapur; dan posisi selatursika.
d.   Elektroensefalogram (EEG)
Memberi informasi mengenai perubahan kepekaan neuron.
e.   Ekoensefalogram
Memberi informasi mengenai pergeseran kandungan intra serebral.
f.   Sidik otak radioaktif
Memperlihatkan daerah-daerah akumulasi abnormal dari zat radioaktif.Tumor otak mengakibatkan kerusakan sawar darah otak yang menyebabkan akumulasi abnormal zat radioaktif.


















TINJAUAN TEORI KEPERAWATAN
A.  Pengkajian
Pengumpulan data klien baik subyektif atau obyektif pada gangguan sistem persarafan sehubungan dengan cedera kepala tergantung pada bentuk, lokasi, jenis injuri dan adanya komplikasi pada organ vital lainnya. Data yang perlu didapati adalah sebagai berikut :

1.   Identitas klien dan keluarga (penanggung jawab): nama, umur, jenis kelamin, agama, suku
bangsa, status perkawinan, alamat, golongan darah, pengahasilan, hubungan klien dengan
penanggung jawab.
2.  Riwayat kesehatan :
Tingkat kesadaran/GCS (< 15), konvulsi, muntah, dispnea / takipnea, sakit kepala, wajah simetris / tidak, lemah, luka di kepala, paralise, akumulasi sekret pada saluran napas, adanya liquor dari hidung dan telinga dan kejang.Riwayat penyakit dahulu haruslah diketahui baik yang berhubungan dengan sistem persarafan maupun penyakit sistem sistemik lainnya. demikian pula riwayat penyakit keluarga terutama yang mempunyai penyakit menular.
Riwayat kesehatan tersebut dapat dikaji dari klien atau keluarga sebagai data subyektif. Data-data ini sangat berarti karena dapat mempengaruhi prognosa klien.
3.  Pemeriksaan Fisik
Aspek neurologis yang dikaji adalah tingkat kesadaran, biasanya GCS < 15, disorientasi orang, tempat dan waktu. Adanya refleks babinski yang positif, perubahan nilai tanda-tanda vital kaku kuduk, hemiparese. Nervus cranialis dapat terganggu bila cedera kepala meluas sampai batang otak karena udema otak atau perdarahan otak juga mengkaji nervus I, II, III, V, VII, IX, XII.
a.    Breathing
Kompresi pada batang otak akan mengakibatkan gangguan irama jantung, sehingga terjadi perubahan pada pola napas, kedalaman, frekuensi maupun iramanya, bisa berupa Cheyne Stokes atau Ataxia breathing. Napas berbunyi, stridor, ronkhi, wheezing ( kemungkinana karena aspirasi), cenderung terjadi peningkatan produksi sputum pada jalan napas.
b.    Blood
Efek peningkatan tekanan intrakranial terhadap tekanan darah bervariasi. Tekanan pada pusat vasomotor akan meningkatkan transmisi rangsangan parasimpatik ke jantung yang akan mengakibatkan denyut nadi menjadi lambat, merupakan tanda peningkatan tekanan intrakranial. Perubahan frekuensi jantung (bradikardia, takikardia yang diselingi dengan bradikardia, disritmia).
c.    Brain
Gangguan kesadaran merupakan salah satu bentuk manifestasi adanya gangguan otak akibat cidera kepala. Kehilangan kesadaran sementara, amnesia seputar kejadian, vertigo, sinkope, tinitus, kehilangan pendengaran, baal pada ekstrimitas. Bila perdarahan hebat/luas dan mengenai batang otak akan terjadi gangguan pada nervus cranialis, maka dapat terjadi :
1.   Perubahan status mental (orientasi, kewaspadaan, perhatian, konsentrasi, pemecahan masalah, pengaruh emosi/tingkah laku dan memori).
2.  Perubahan dalam penglihatan, seperti ketajamannya, diplopia, kehilangan sebagian lapang pandang, foto fobia.
3.  Perubahan pupil (respon terhadap cahaya, simetri), deviasi pada mata.
4.  Terjadi penurunan daya pendengaran, keseimbangan tubuh.
5.  Sering timbul hiccup/cegukan oleh karena kompresi pada nervus vagus menyebabkan kompresi spasmodik diafragma.
6.  Gangguan nervus hipoglosus. Gangguan yang tampak lidah jatuh kesalah satu sisi, disfagia, disatria, sehingga kesulitan menelan. D.
d.   Blader
Pada cidera kepala sering terjadi gangguan berupa retensi, inkontinensia uri, ketidakmampuan menahan miksi.
e.   Bowel
Terjadi penurunan fungsi pencernaan: bising usus lemah, mual, muntah (mungkin proyektil), kembung dan mengalami perubahan selera. Gangguan menelan (disfagia) dan terganggunya proses eliminasi.
f.   Bone
Pasien cidera kepala sering datang dalam keadaan parese, paraplegi. Pada kondisi yang lama dapat terjadi kontraktur karena imobilisasi dan dapat pula terjadi spastisitas atau ketidakseimbangan antara otot-otot antagonis yang terjadi karena rusak atau putusnya hubungan antara pusat saraf di otak dengan refleks pada spinal selain itu dapat pula terjadi penurunan tonus otot.
4.  Data Fokus
a.   Kepala dan leher
Kepala
*      Inspeksi (kesimetrisan muka dan tengkorak, warna dan distribusi rambut kulit kepala),
*      Palpasi (keadaan rambut, tengkorak, kulit kepala, massa, pembengkakan, nyeri tekan, fontanela (pada bayi)

Leher
*      Inspeksi (bentuk kulit (warna, pembengkakan, jaringan parut, massa), tiroid),
*      palpasi (kelenjar limpe, kelenjar tiroid, trakea), mobilitas leher.
b.    Dada dan paru
*      Inspeksi. Dada diinspeksi terutama mengenai postur, bentuk dan kesimetrisan ekspansi serta keadaan kulit. Inspeksi dada dikerjakan baik pada saat dada bergerak atau pada saat diem, terutama sewaktu dilakukan pengamatan pergerakan pernapasan. Pengamatan dada saat bergerak dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui frekuensi, sifat dan ritme/irama pernapasan.
*      Palpasi
 Dilakukan dengan tujuan untuk mengkaji keadaan kulit pada dinding dada, nyeri tekan, massa, peradangan, kesimetrisan ekspansi, dan tactil vremitus (vibrasi yang dapat teraba yang dihantarkan melalui sistem bronkopulmonal selama seseorang berbicara)
*      Perkusi
Perhatikan adanya hipersonor atau ”dull” yang menunjukkan udara (pneumotorak) atau cairan (hemotorak) yang terdapatb pada rongga pleura.
*      Auskultasi
Berguna untuk mengkaji aliran udara melalui batang trakeobronkeal dan untuk mengetahui adanya sumbatan aliran udara. Auskultasi juga berguna untuk mengkaji kondisi paru-paru dan rongga pleura.
c.   Kardiovaskuler
*      Inspeksi dan palpasi
Area jantung diinspeksi dan palpasi secara stimultan untuk mengetahui adanya ketidaknormalan denyutan atau dorongan (heaves). Palpasi dilakukan secara sistematis mengikuti struktur anatomi jantung mulai area aorta, area pulmonal, area trikuspidalis, area apikal dan area epigastrik .
*      Perkusi
 Dilakukan untuk mengetahui ukuran dan bentuk jantung. Akan tetapi dengan adanya foto rontgen, maka perkusi pada area jantung jarang dilakukan karena gambaran jantung dapat dilihat pada hasil foto torak anteroposterior. (Priharjo, 1996).





B.  Diagnosa keperawatan
1.   Tidak efektifnya pola napas sehubungan dengan efek anestesi.
2.  Resiko tinggi terhadap infeksi b.d jaringan trauma, kulit rusak, prosedur invasif. Penurunan kerja silia, stasis cairan tubuh.
3.  Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan luka insisi.
4.  Gangguan perfusi jaringan perifer
5.  Resiko tinggi terhadap komplikasi ( kraniotomi )
6.  Resiko terhadap kerusakan terhadap penatalaksanaan pemeliharaan di rumah


C.  Intervensi dan Rasional
1.   Pola nafas tidak efektif  b/d tindakan anastesi, obstruksi trakeabronkial, neuromuskular
·         Batasan karakteristik : perubahan pada frekuensi dan kedalaman pernafasan. Pengurangan kapasitas vital, apnea, sianosis, pernafasan yang gaduh.
·         Kriteria evaluasi : Menetapkan pola nafas yang normal/efektif, dan bebas dari sianosis atau tanda-tanda hipoksia  lainnya.
Intervensi
Rasional
1.   Pertahankan jalan udara pasien dengan memiringkan kepala, hiperekstensi rahang, aliran udara faringeal oral.
Mencegah obstruksi jalan nafas
2.  Auskultasi suara nafas, dengarkan adanya kumur-kumur, mengi, crow, dan/atau keheningan setelah ekstubasi.
Kurangnya suara nafas adalah indikasi adanya obstruksi oleh mukus atau lidah dan dapat dibenahi dengan mengubah posisi ataupun pengisapan. Berkurangnya suara pernafasan diperkirakan telah terjadinya atelektasis. Suara crowg dan diam mengambarkan spasme laring parsial sampai total.
3.  Observasi frekuensi dan kedalaman pernafasan, perluasan rongga dada, retraksi atau pernafasan cuping hidung, warna kulit, dan aliran udara.
Dilakuakan untuk memestikan efektivitas pernafasan sehingga upaya memperbaikinya dapat segera dilakukan.
4.  Letakkan posisi pasien yang sesuai, tergantung pada kekuatan pernafasan dan jenis pembedahan.
Elevasi kepela dan posisi miring akan mencegah terjadinya aspirasi dari muntah, posisi yang benar akan mendorong ventilasi pada lobus paru bagian bawah akan menurunkan tekanan pada diagfragma.
5.  Pantau tanda-tanda vital secara terus menerus.
Meningkatnya pernafasan, takikardia, dan/atau bradikardi menunjukkan kemungkina terjadinya hipoksia.
6.  Mandiri
a.   observasi terjadinya somnolen yang berlebihan.






Induksi narkotik akan menyebabkan terjadinya depresi pernafasan atau menekan relaksasi otot-otot dalam sistem pernafasan. Kedua hal ini mungkin terjadi dan membentuk siklus yang memberikan pola depresi dan keadaan darurat lain.
b.   Lakukan pengisapan lendir jika diperlukan.





Obstruksi jalan nafas dapat terjadi karena adanya mukus dalam tenggorok atau trakea
7.  Kolaborasi
a.   Berikan tambahan oksigen sesuai kebutuhan.




b.   Berikan obat obatan IV seperti Nalokson ( narkan ) atau Doksapram ( Dopram).





Dilakukan untuk meningkatkan atau memaksimakan pengambilan oksigen yang akat diikat oleh Hb yang menggantikan tempat gas anastesi dan mendorong pengeluaran gas tersebut melalui zat-zat inhalasi.
Narkan akan mengubah induksi narkotik yang menekan susunan saraf pusat dan dopram menstimulasi gerakan otot-otot pernafasan. Kedua obat ini bekerja secara alami dalam siklus dan depresi pernafasan mungkin akan terjadi kembali.
2.  Resiko tinggi terhadap infeksi b.d jaringan trauma, kulit rusak, prosedur invasif. Penurunan kerja silia, stasis cairan tubuh.
·         Batasan karakteristik : tidak dapat diterapkan; adanya tanda-tanda dean gejala membuat diagnosa aktual.
·         Kriteria hasil :
1.   Mengindentifikasi fakto-faktor resiko individu dan intervensi untuk mengurangi potensial infeksi.
2.  Pertahankan lingkungan aseptik yang aman

Intervensi
Rasional
1.   Mandiri
a.   Tetap pada fasilitas kontrol infeksi, sterilisasi dan prosedur/kebijakan aseptik.
b.   Uji kesterilan semua peralatan.








Kolaborasi
a.   Berikan antibiotik sesuai petunjuk

Tetapkan mekanisme yang yang dirancang untuk mencegah infeksi.

Benda benda yang dipaket mungkin nampak steril, meskipun demikian,setiap benda harus segera teliti diperiksa kesterilanya, adanya kerusakan pada pemaketan, efek lingkungan pada paket, dan tehnik pengiriman. Sterilisasi paket/tanggal kadaluarsa, nomor lot/seri harus didokumentasikan jika perlu.

Dapat diberikan secara profilaksis bila dicurigai terjadinya infeksi atau kontaminasi.

3.  Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan luka insisi.
·         Batasan karakteristik : gangguan pada permukaan/lapisan kulit dan jaringan
·         Kriteria hasil :
1.   mencapai penyembuhan luka
2.  mendemonstrasikan tingkah laku/tehnik untuk meningkatkan kesembuhan dan untuk mencegah komplikasi.
Intervensi
Rasional
Mandiri
a.   Beri penguatan pada balutan awal/penggantian sesuai indikasi. Gunakan tehnik aseptik yang ketat.

Lindungi luka dari perlukaan mekanis dan kontaminasi. Mencegah akumulasi cairan yang dapat menyebabkan ekskoriasi.
b.   Secara hati-hati lepaskan perekat
( sesuai arah pertumbuhan rambut ) dan pembalut pada waktu mengganti.
Menggurangi resiko trauma kulit dan gangguan pada luka.
c.   Gunakan sealant/ barrier kulit sebelum perekat jika diperlukan. Gunakan perekat yang halus/silk
 ( hipoalergik atau perekat montgoumery/elastis untuk membalut luka yang mebutuhkan pergantian balutan yang sering.
Menurunkan resiko terjadinya trauma kulit atau abrasi dan memberikan perlindungan tambahan untuk kulit atau jaringan yang halus.
d.   Periksa tegangan balutan. Beri perekat pada pada pusat insisi menuju ketepi luar dari balutan luka. Hindari menutup pada seluruh ekstermitas.
Dapat menggangu atau membendung sirkulasi pada luka sekaligus bagian distal dari ekstermitas.
Kolaborasi
Irigasi luka; bantu dengan melakukan debridemen sesuai kebutuhan.

Membuang jaringan nekrotik/luka eksudat untuk meningkatkan penyembuhan.

4.  Gangguan perfusi jaringan perifer, perubahan, resti terhadap ganguan vena, arteri
·         Batasan karakteristik : -
·         Kriteria Hasil : mendemonstrasikan adanya perfusi jaringan yang stabil, adanya denyut nadi perifer yang kuat; kulit hangat/kering; kesadaran normal, dan pengeluaran urinarius individu sesuai.

Intervensi
Rasional
Mandiri
a.   Ubah posisi secara perlahan ditempat tidur dan pada saat pemindahan
 ( terutama pada pasienyang mendapatkan obat anastesi Fluuothane ).
b.   Bantu latihan rentang gerak, meliputi latihan aktif kaki dan lutut.

c.   Cegah dengan menggunakan bantal bantal yang diletakkan dibawah lutut. Ingatkan pasien agar tidak menyilangkan kaki atau duduk dengan kaki tergantung lama.

d.   Pantau tanda-tanda vital: palpasi denyut nadi perifer, catat suhu/warna kulit dan pengisian kapiler, evaluasi waktu dan pengeluaran cairan urine.

Mekanisme vasokontriksi ditekan dan akan bergerak dengan cepat pada kondisi hipotensi.


Menstimulasi sirkulasi perifer, membantu mencegah terjadinya vena statis sehingga  menurunkan resiko pembentukan trombus.
Mencegah terjadinya sirkulasi vena statis dan menurunkan risiko tromboflebitis.




Merupakan indikator dari volume sirkulasi, mendukunh terjadi perfusi jaringan.
Kolaborasi
a.   Beri cairan IV/produk-produk darah sesuai kebutuhan.
b.   Berikan obat-obatan antiembolik sesuai indikasi

Mempertahankan volume sirkulasi, mendukung terjadinya perfusi jaringan.
Meningkatkan pengembalian aliran vena dan mencegah aliran vena statis pada kaki untuk menurunkan resiko trombosis.

5.  Resiko tinggi terhadap komplikasi ( kraniotomi )
·         Batasan karakteristik : tanda-tanda dini meningkatnya tekanan intrakranial, kejang dan infeksi.
·         Hasil pasien : menunjukkan tidak ada gangguan neurologis lebih lanjut.
·         Kriteria Evaluasi : tidak ada tanda-tanda meningkatnya tekanan intrakranial, kejang dan infeksi.
Intervensi
Rasional
Peningkatan TIK
1.   Pantau
·         Status neurologis. Setiap 2 jam dalam 48 jam pertama. Kemudian setiap 4 jam bila stabil.
·         Masukan dan haluaran setiap 2 jam dalam 48 jam pertama, kemudian setiap 8 jam bila haluaran urine melebihi 240cc/8 jam.
·         Ukur berat jenis urine setiap 4 jam dan kalau perlu, khususnya bila warna urine jauh melebihi masukan cairan.

Untuk mengevaluasi efektifitas terapi.
2.  Pertahankan posisi kepala tempat tidur antara 30-40 derajat. Bantal kecil dapat ditempatkan dibawah kepala.
Untuk mencegah peningkatan tekanan inttrakranial.
3.  Beritahu dokter bila ada tanda-tanda peningkatan tekanan intrakranial dan lakukan tindakan sesuai program.
Tindakan yang cepat diperlukan untuk mengatasi tekanan. Pernafasan dapat terhenti jika meningkatnya tekanan intrakranial tidak di atasi.
4.  Berikan glukokortikosteroid sesuai program
Untuk mengurangi tekanan intrakranial dengan diuresis.
5.  Lakukan tindakan-tindakan untuk mencegah peningkatan tekanan intrakranial.
a.   Ingatkan pasien untuk menghindari batuk
b.   Berikan pelunak feses sesuai program dan evaluasi efektifitasnya.
c.   Berikan antiematik sesuai program bila pasien mengeluh mual.
d.   Pertahankan fungsi selang nasogastrik, bila digunakan, untuk mengurangi kompresi pada lambung dan mengurangi kemungkinan muntah.
Batuk, mengejan dan muntah merangsang manuver valsalva. Manuver valsalva meningkatkan tekanan intratorakal yang mengakibatkan darah kembali ke otak karena kompresi jaringan vena sentral. Bendungan vena-vena ini meningkatkan tekanan intrakranial.
6.  Beritahu dokter bila berat jenis urine rendah, disertai haluarannya berlebihan dalam hubunganya dengan masukan cairan.
Temuan ini dapat merupakan indikasi diabetes insipidus ( diabetes yang ditandai dengan peningkatan ekskresi urine dengan berat jenis yang rendah dan disertai dengan rasa haus yang hebat ), mencerminkan adanya cedra pada kelenjar hipofise.
7.  Beri tahu dokter bila ada perubahan dalam status neurologis yang berbeda dari nilai normal.
Akibat gangguan neurologis residual tidak disadari sampai edema serebral teratasi. Peningkatan tekanan intrakranial dapat menyebabkan gangguan neurologis lebih lanjut.
Kejang
1.  Berikan antikonvulsan sesuai program. Pantau hasil pemeriksaan laboratorium yang mencerminkan kadar antikonvulsan didalam serum.


2. Segera beri tahu dokter bila terjadi kejang, dan lakukan intervensi secara tepat.


Untuk mengontrol kejang, antikonvulsan menyebabkan depresi aktivitas listrik otak. Kadar antikonvulsan didalam darah bervariasi. Kadar yang cukup sangat penting untuk mempertahankan kondisi agar tidak terjadi kejang.
Edema serebral terjadi akibat meningkatnya tekanan intrakranial, dan iritasi meningkat dapat merangsang kejang.
Infeksi ( Meningitis ) :
1.  Pantau
·         Tanda-tanda vital setiap jam sampai stabil, kemudian setiap 2 jam dalam 48 jam berikutnya, kemudian setiap 4 jam.
·         Status neurologis setiap 2 jam dalam 48 jam, kemudian setiap 4 jam
2.  Beritahu dokter bila:
·         Ada keluhan kaku kuduk
·         Sakit kepala
·         Gelisah
·         Penurunan sensori
·         Demam


3.  Berikan antibiotik sesuai program


Untuk mengevaluasi efektifitas terapi.






Temuan-temuan ini secara bersama-sama dapat merupakan tanda-tanda meningitis. Dokter kemungkinan akan melakukan fungsi lumbal untuk memastikan dignosis. Pengobatan antibiotik secara tepat dibutuhkan untuk mengatasi infeksi.
Sebagai pencegahan terhadap infeksi


6.  Resiko terhadap kerusakan terhadap penatalaksanaan pemeliharaan di rumah
·         Batasan karakteristik  : kemungkinan adanya sisa gangguan sensori/ motorik tetapi hidup sendiri, ungkapan kurangnya pemahaman, meminta informasi, keluarga mengungkapkan ketidakmampuannya untuk merawat karena keterbatasan fisik atau finansial.
·         Kreteria hasil : pasien atau keluarga mengungkapkan kepuasanya akan rencana pulang.
Intervensi
Rasional
1.   Libatkan pasien dengan keluarga dalam AKS. Mulai dengan tugas-tugas sederhana seperti mencuci / mengelap muka, sikat gigi dan sebagainya. Bantu dalam melakukan kebersihan diri, defekasi, makan ambulasi sampai individu mampu melakukanya sendiri.

2.  Evaluasi tingkat pemahaman dan kemampuan mengikuti instruksi serta melakukan aktivitas mandiri. Diskusikan dengan pasien dan keluarganya tentang pengaturan kesinambungan asuhan perawatan di rumah. Bila pasien mengalami gangguan neurologis, hubungi institusi  pelayanan rehabilitasi yang mempunyai spesialisasi tertentu (terapi fisik, terapi okupasi, terapi wicara). Konsultasi dengan pekerjaan sosial atau bagian yang menangani pemulangan pasien untuk mengatur pelayanan perawatan di rumah atau menempatkanya di panti rehabilitasi sesuai dengan pilihan pasien atau keluarganya.
Melakukan aktifitas sehari-hari secara mandiri meningkatkan kelenturan sendi, dan membantu mempertahankan harga diri.








Rencana perawatan di rumah penting untuk menjamin kelangsuungan perawatan guna membantu pasien memperoleh kembali fungsi optimalnya.

D.  Evaluasi
Kriteria Evaluasi
Hasil yang diharapkan setelah perawatan pasien post operasi, meliputi;
1. Tidak timbul nyeri luka selama penyembuhan.
2. Luka insisi normal tanpa infeksi.
3. Tidak timbul komplikasi.
4. Pola eliminasi lancar.
5. Pasien tetap dalam tingkat optimal tanpa cacat.
6. Kehilangan berat badan minimal atau tetap normal.
7. Sebelum pulang, pasien mengetahui tentang :
a) Pengobatan lanjutan.
b) Jenis obat yang diberikan.
c) Diet.
d) Batas kegiatan dan rencana kegiatan di rumah.








Tidak ada komentar:

Posting Komentar